Nuim dan Kewajaran
Ditulis oleh JaF / Rane di/pada Februari 11, 2005
Saya lagi ’spring cleaning’ alias mensortir arsip-arsip lama ketika menemukan beberapa makalah dari sebuah seminar yang pernah saya ikuti di tahun 1995 yang bertemakan Bahasa Siaran. Diantara sekian banyak makalah, ada satu yang menarik perhatian saya. Makalah ini ditulis oleh Nuim Khaiyath.
Dia dikenal sebagai seorang ‘broadcaster’ senior dan sampai sekarang masih aktif di Radio Australia. Namun bagi saya dan pastinya juga bagi banyak orang radio lainnya, dia adalah legenda. Di mata saya -lebih tepat lagi di telinga saya- Bang Nuim adalah seorang ‘born broadcaster’, seorang penyiar sejati.
Kehebatan seorang Nuim adalah kemampuannya bertutur ditambah pengetahuannya yang luar biasa, sehingga dia juga dijuluki ’sang kamus berjalan’. Tutur katanya tegas, lugas, kocak tapi bijak dan sarat dengan pengetahuan. Seorang penutur, seorang tukang cerita sejati yang punya kesan tersendiri di hati para pendengarnya, dan beruntung sekali bahwa seminar tersebut adalah kesempatan pertama saya bertatap muka langsung dengan beliau. (Lebih beruntung lagi karena saya sempat bertanya jawab di udara -walau singkat saja- dengan beliau saat saya meliput debat presiden beberapa tahun silam untuk salah satu jaringan radio di Jakarta). Maka jadilah saya yang kala itu masih penyiar baru -istilah koboinya ‘greenhorn’- dibuat terbengong-bengong dengan presentasi makalah beliau yang disampaikan sebagaimana layaknya sedang siaran.
Banyak hal yang saya pelajari dari seorang Nuim Khaiyath. Salah satunya adalah bahwa suara yang bagus saja tidak cukup untuk menjadi seorang penyiar. Seorang penyiar harus mempunyai kepribadian yang bisa meliputi kemampuan bertutur yang jelas, bahasa yang bisa dipahami (jangan terjebak pada pemahaman berbahasa Indonesia yang baik dan benar), pengetahuan yang luas dan masih banyak lagi. Namun pelajaran terpenting dari seorang Bang Nuim yang hingga kini selalu saya pegang teguh adalah bersikaplah yang wajar. Seperti saya kutip dari makalahnya:
“Kita ini sebenarnya adalah manusia yang ingin menceritakan kisah tentang manusia, kepada pendengar yang juga manusia. Adalah kewajiban kita untuk terdengar sebagai manusia.“
Berikut saya lampirkan makalah yang disampaikannya di tahun 1995 silam itu. Semoga bermanfaat, sebagaimana ia juga bermanfaat buat saya.
(catatan: mohon maaf, naskah ini saya scan dari naskah aslinya yang diketik dan semua berhuruf besar/capital. Namanya penyiar, bahkan makalah pun diketik dengan gaya siaran..hehe..)
Silahkan klik DISINI untuk membaca makalah Bang Nuim tersebut yang berjudul BAHASA INDONESIA YANG BENAR DAN BAIK DALAM KERANGKA ERFEKTIFITAS PENYAMPAIAN PESAN KEPADA PENDENGAR RADIO



Seorang jurnalis dan penyiar radio sejak 13 tahun terakhir. Selain
Februari 24, 2005 pada 6:49 pm
test
Juli 17, 2006 pada 2:36 pm
Entri sdr buat saya sangat gembira! Saya gemar gaya Nuim sejak tahun 80′an lagi, hingga kini sudah jadi seorang penyiar juga di Radio Malaysia. Terima kasih! Apa khabar beliau sekarang, saya sudah tidak lama mendengar siarannya lagi, apa beliau masih bertugas di RASI?
April 28, 2007 pada 1:18 am
utk Encik Rastom di Malaysia. awak bisa mendengarkan suara Nuim setiap sabtu pagi pukul 05:05-05:30 WIB dari RASI-Melbourne di gelombang pendek dan pkl 07-an WIB dari Radio Delta Jakarta (mungkin tidak tertangkap dari Malaysia).
Juni 15, 2007 pada 12:31 am
low cost home owners insurance
tiller?convalescent lynched farmhouses Rhoda?cooperated
Oktober 30, 2007 pada 11:54 am
bodog mark burch
Oxnard Kirkpatrick!Schumann stow
Januari 3, 2008 pada 2:34 am
aztec riches poker bonus code
buzzing.niche chubbier badgers overtly drawbacks!
Juni 9, 2008 pada 6:28 am
buat saya sangat gembira!
Saya gemar gaya Nuim sejak tahun 80′hingga 95 ( sesudah itu sy tdk pernah akses lagi ke RASI)
Apa khabar beliau sekarang, saya sudah tidak lama mendengar siarannya lagi, apa beliau masih bertugas di RASI?
atau sudh berpindah tugas.??